Rumah photo Hs

logorphsRumah Photo Hs adalah sebuah perusahaan yang bergerak dibidang videography, photography, multimedia, 3D modelling dan event consultant yang terletak di kota Pekanbaru. Namun Rumah Photo Hs saat ini lebih mengkhususkan diri dalam bidang photography dan videography untuk kegiatan sekolah, olahraga, iklan komersial, profil pribadi dan perusahaan, penikahan, keluarga, persahabatan dan event seni budaya. Harga terjangkau dan paket yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan klien membuat Rumah Photo Hs pilihan terbaik untuk setiap kebutuhan fotografi dan videografi anda.
Untuk info lebih lanjut, silahkan kunjungi blog rumahphotohs di http://www.rumahphotohs.wordpress.com.

Malay Melodies Documentation sesi 2

IMG_0159 IMG_0165 IMG_0166 IMG_0169 IMG_0170 IMG_0172 IMG_0179 IMG_0181 IMG_0182 IMG_0184 IMG_0185 IMG_0186 IMG_0187 IMG_0192 IMG_0193 IMG_0194 IMG_0195 IMG_0196 IMG_0197 IMG_0198 IMG_0199 IMG_0200 IMG_0201 IMG_0202 IMG_0203 IMG_0204 IMG_0205 IMG_0208 IMG_0210 IMG_0213 IMG_0214 IMG_0216 IMG_0218 IMG_0220 IMG_0222 IMG_0223 IMG_0224 IMG_0225 IMG_0226 IMG_0227 IMG_0228 IMG_0229 IMG_0230 IMG_0231 IMG_0232 IMG_0234 IMG_0235 IMG_0236 IMG_0237 IMG_0238 IMG_0239 IMG_0240 IMG_0241 IMG_0242 IMG_0246 IMG_0250 IMG_0253 IMG_0254 IMG_0255 IMG_0257 IMG_0258 IMG_0260 IMG_0262 IMG_0265 IMG_0266 IMG_0268 IMG_0269 IMG_0273 IMG_0275 IMG_0276 IMG_0277 IMG_0278 IMG_0279 IMG_0282 IMG_0284 IMG_0286 IMG_0288 IMG_0289 IMG_0290 IMG_0291 IMG_0297 IMG_0298 IMG_0300 IMG_0301 IMG_0303 IMG_0304 IMG_0305 IMG_0306 IMG_0308 IMG_0311 IMG_0313 IMG_0314 IMG_0315 IMG_0319 IMG_0320 IMG_0321 IMG_0322 IMG_0323 IMG_0324 IMG_0325 IMG_0326 IMG_0327 IMG_0328 IMG_0329 IMG_0330 IMG_0332 IMG_0333 IMG_0337 IMG_0338 IMG_0339 IMG_0340 IMG_0342 IMG_0343 IMG_0344 IMG_0347 IMG_0348 IMG_0349 IMG_0351 IMG_0352 IMG_0354 IMG_0355 IMG_0357 IMG_0358 IMG_0360 IMG_0361 IMG_0362 IMG_0363 IMG_0364 IMG_0367 IMG_0368 IMG_0370 IMG_0371 IMG_0374 IMG_0375 IMG_0376

Malay Melodies Documentation sesi 1

IMG_0077 IMG_0076 IMG_0074 IMG_0073 IMG_0072 IMG_0071 IMG_0068 IMG_0045 IMG_0041 IMG_0039 IMG_0012 IMG_0011 IMG_0001 IMG_0007 IMG_0053 IMG_0090 IMG_0088 IMG_0098 IMG_0096 IMG_0086 IMG_0083 IMG_0080 IMG_0139 IMG_0121

8th RIAU HITAM – PUTIH INTERNATIONAL 2014 : Malay Melodies

20140430-101119 PM.jpg

Riau Hitam – Putih Internasional merupakan event worldmusic yang dasar pelaksanaannya berangkat dari keinginan untuk melesatrikan, mengembangkan dan memasyarakatkan musik tradisional ke masyarakat, khususnya kalangan generasi muda. Dengan mengkolaborasikan musik modern ke unsur musik tradisional tempatan, diharapkan mampu menjaga kelestarian musik tradisi yang pada kenyataannya memang sudah diambang kepunahan. Festival worldmusic ini diprakarsai dan ditaja oleh Malay Music Institute berkerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau serta didukung sepenuhnya oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Dan untuk pelaksanaannya tahun ini, MMI merangkul Rtv salah satu media televisi lokal terbesar di Riau saat ini sebagai media partner.

20140430-101235 PM.jpg
<br /

Worldmusic sendiri sebernarnya bukan istilah baru di dunia musik internasional, hanya saja di Indonesai kita lebih mengenal dengan sebutan musik dua warna. “Worldmusic tidak dapat diartikan dalam bahasa Indonesia (musik dunia), karena musik dunia itu tidak ada, yang ada itu hanya musik Jawa, musik Melayu, musik Inggris dan lain sebagainya” demikian yang pernah diungkapkan oleh Suka Hardjana pada sarasehan Satu Bumi Beribu Bunyi di Jakarta Desember 2006 lalu. Namun apapun asumsi yang berkembang tentang worldmusic, Malay Music Institute (MMI) menangkap, bahwa istilah tersebut dapat dijadikan sebagai motivasi bagi generasi muda untuk lebih mengenal musik tradisi mereka sendiri yang pada akhirnya dapat memberikan dampak positif terhadap kelestarian dan perkembangan musik tradisi itu sendiri. MMI juga menyadari bahwa dalam upaya untuk memasyarakatkan kembali musik tradisi khususnya kekalangan generasi muda akan sulit terwujudkan apabila musik tradisi tersebut tidak didekatkan dengan musik modern atau musik populer saat ini. Hal ini pun sejalan dengan semangat Malay Music Institute dalam mengembangkan musik tradisi yang memang harus senatiasa berkembang.

Dari pemantauan yang dilakukan Malay Music Institute selama melaksanakan kegiatan ini, terlihat adanya peningkatan minat para generasi muda yang cukup baik untuk lebih mengenal musik tradisi dari tahun – tahun sebelumnya. Pada tahun 2002, awal pelaksanaan kegiatan ini, hampir dari seluruh peserta yang berpartisipasi, tidak mengetahui apalagi memahami tentang musik tradisi. Namun seiring dengan terus digelarnya kegiatan ini, para generasi muda di Propinsi Riau semakin mengenal dan memahami musik tradisional mereka sendiri. Namun perjalanan kita masih panjang bahkan mungkin tak berujung.

Tahun 2014 ini, Malay music Inetitute mendapat dukung penuh dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata propinsi Riau, untuk kembali menggelar kegiatan Riau Hitam – Putih Internasional yang tentunya lebih matang dan professional lagi. Dengan tema Malay Melodies atau melodi dari tanah melayu, Riau Hitam – Putih Internasional diharapkan dapat mengangkat kekayaan khasanah melodi musik Melayu.

20140430-101247 PM.jpg
Dalam event yang digelar selama tiga hari ini, dari tanggal 28 sampai dengan 31 Mei 2014, Malay Music Intitute tetap akan menaja beberapa kegiatan pendukung sepeti, music appreciation for children, cakap-cakap musik di radio dan tv, worldmusic goes to school dan workshop musik. Hasil dari workshop musik itu, akan di pertunjukan pada malam puncak yakni tanggal 31 Mei 2014 di Anjung Seni Idrus Tintin, Pekanbaru, Riau.

Banyak pro kontra memang yang mengalir dari fikiran – fikiran para pencinta, pengamat dan pelaku seni atas penyelenggaraan event ini, namun dalam satu hal semuanya satu pendapat yakni perlu adanya langkah nyata guna melestarikan dan megembangkan seni musik tradisi untuk kemajuan kebudayaan kehadapan.

20140430-102211 PM.jpg

Riau Hitam Putih Internasional : Menumbuhkan Ekspresi Melayu

Oleh: Pincuk Suroto

Betapa penting tema persembahan musik dunia untuk bumi ini. Selain menjadi hajatan tahunan, event ini menekankan pentingnya menumbuhkan ekspresi Melayu.

Malay Music Institute (MMI), sebuah lembaga yang bergerak di bidang konservasi kebudayaan Melayu di Riau sebagai penggagas even ini mencoba untuk berbuat sesuatu untuk kelangsungan hidup bumi lewat musik. Hari Sandra, panitia penyelenggara Riau Hitam Putih (RHP) 2008, berharap bahwa tema tentang manusia dan lingkungan ini dapat dijadikan acuan bagi kelompok penampil dalam even ini. “Kita mengurusi masalah musik tetapi juga berbuat untuk bumi, paling tidak, memunculkan tanya sumbangsih apa yang dapat dilakukan untuk bumi yang kita pijak ini,” tandasnya.

Penyelenggaraan pesta musik tahunan ini awalnya untuk mengenalkan musik tradisi (Melayu) kepada generasi muda dan saat itu diwadahi dalam even yang bertajuk Persembahan Hitam Putih (2002). Mulanya memang terasa agak berat, tambah Hari Sandra, musik pop masih begitu kental mewarnai “diskusi” Melayu (tradisi-modern) di kalangan generasi muda di Riau saat itu. Setahun kemudian istilah world music mulai dikenal dan sampai saat ini pun format world music yang diharapkan masih dalam proses pencarian.

Penyelenggaraan yang ke-6 pada tahun ini sebagai upaya pencarian yang lebih mengerucut karena even ini tidak hanya pesta musik semata tetapi disisipi misi edukasi, salah satunya lewat kegiatan seminar dan workshop musik etnis untuk pelajar SMP dan SMA. Apresiasi musik kepada para penonton sebenarnya juga disiapkan oleh panitia yaitu pada saat jeda pertunjukan akan ada analisis dari kurator, namun mengingat Ben Pasaribu, kurator even ini berhalangan hadir karena sakit maka peran itu akan diberikan kepada beberapa penampil dan pengamat yang datang pada setiap pertunjukan.

Mencari Format World Music
Di ranah yang lebih luas, world music, terutama di Indonesia formatnya juga masih terus dalam proses pembentukan. Menurut Irwansyah Harahap, ethnomusikolog sekaligus seniman musik dari kelompok Suarasama Medan, world music masih ramai dalam tafsiran. Namun, intinya adalah musik-musik dunia atau yang mewakili elemen estetik musik dunia. Bahkan world music ini dikenalkan dan dipopulerkan oleh para pelaku musik dari dunia popular. Di dalam world music yang terpenting adalah gagasan bukan pada pilihan alat musik yang terkotak pada geografis. Trendunia abad ke-21 juga berembus kuat dalam dunia musik, yaitu fokus semua bangsa menuju pada satu titik, peradaban. Sehingga muncullah glokalitas (isu lokal yang memberi kontribusi global), bukan lagi globalitas. “Menurut saya yang paling penting belajar mewujudkan world music ini adalah tumbuhnya kesadaran, identitas, kreativitas, dan komoditas,” imbuhnya

Panggung persegi empat, tak kurang dari 10 x 6 meter persegi ini terasa demikian kecil manakala mata memandang dari pintu gerbang Laman Bujang Mat Syam, Bandar Serai, Pekanbaru, Riau. Bukan karena jarak yang begitu jauh, namun karena panggung untuk perhelatan 6th Riau Hitam Putih International 2008 ini berlatar arsitektur gedung pertunjukan yang besar dan megah bergaya Melayu modern. Panggung ini yang menjadi tempat membuncahkan ekspresi belasan kelompok musik yang mengusung world music for earth selama tiga hari 23-25/10, beberapa waktu lalu.

Pada hari pertama tampil Urban Rhytem, Natural Rhytem Ensamble (Riau), Klasik Gong (Kampar), New Age Barisan Plus (Pekanbaru), Nakhon Si Tammarat Rajabhat University (Thailand), Sanggar Tasik (Bengkalis). Tampilan ini dibuka oleh tampilan ekspresif dari beberapa kumpulan anak muda dari urban Rhytem dan Natural Rhytem sehingga malam yang mulai menghangat setelah prosesi pembukaan bertambah hingar sebelum tampilnya peserta dari Thailand. Dari negeri tetangga ini tampil sangat melodis ketika bermain dengan ensambel akustik dan perkusi. Kelompok ini juga menampilkan komposisi etnik dari lagu gubahan raja Thailand Bhumibol Adulyadej berjudul Kali Rung. Lagu yang berkisah tentang suasana menjelang subuh itu turut mewarnai tampilan dari negeri gajah putih yang mampu mengajak para penonton menari di depan panggung.

Hari kedua dan ketiga masing-masing tampil dari kelompok Jejak (Pekanbaru), Dewan Kesenian Lampung, Cosanostra (Malaysia), Komunitas Maestro (Aceh), Geliga (Pekanbaru), Suarasama (Medan), Peserta Workshop, Eksaens Etniclasik Contempo, Komunitas Pekerja Seni (Bengkalis), Fieldplayer (Malaysia), The Malay (Jakarta).

Tiga hari berturut-turut disuguhi dentuman drum dan kerasnya intrumen musik modern seperti gitar, bas, maupun keyboard, barangkali hanya kelompok Suarasama dan Nakhon Si Tammarat Rajabhat University, Thailand yang mengalunkan harmonisasi. Barangkali, Ben Pasaribu memiliki pertimbangan yang cukup matang mengenai penampilan RHP yang ke-6 ini. Tampilnya kelompok generasi muda (pelajar) merupakan upaya yang positif demi keberlangsungan musik-musik etnik Melayu dan kebudayaan Melayu pada umumnya.

Kurang Begitu Bergaung
Tajuk world music yang digaungkan penyelenggara, bahwa ternyata warna musik etnik yang dibawa oleh para peserta kurang begitu bergaung. Instrumen musik etnis seperti djembe, jimbalis, rebana, konga, dll. terasa seakan-akan hanya tempelan. Instrumen musik etnik kurang dimampukan untuk menjadi nada-nada pokok dalam komposisinya. Ketika mulai berkolaborasi dengan instrumen musik modern seolah-olah hilang ditelan kerasnya musik elektronik.

Apakah ini yang sebenarnya digemari oleh masyarakat Pekanbaru yang sangat kehausan pada even-even musik seperti ini. Walaupun masih enjoy dengan komposisi musik kelompok Suarasama dan dari Thailand, sesaat langsung bersorak manakala tampil kelompok musik dari negeri Jiran, Malaysia, Fieldplayer. Kelompok yang mengusung format band ini tampil dengan lagu-lagu yang dinamis. Dan bahkan bagi personil Fieldplayer, Riau bukan tanah yang asing karena malam itu merupakan tampilan kali keempat di RHP. Tak hanya Fieldplayer yang banyak penggemar namun kelompok Cosa Nostra yang berasal dari Malaysia juga dielu-elukan oleh ribuan penonton yang sebagian besar remaja.
Tak hanya gebyar dalam kerasnya dentuman musik, penyelenggara juga memberikan penghargaan kepada 2 musisi Riau. Penghargaan MMI Award ini diberikan kepada dua orang musisi beda generasi. Penghargaan Memorial Award diberikan kepada alm. Alianar, tokoh musik tradisional dan penghargaan MMI Perdana Award diberikan kepada seorang pelajar bernama Riszy Biola Sakti.

Menumbuhkan Ekspresi dan Gagasan
Joni Irawan, Ka Dinas Kebudayaan Kesenian dan Pariwisata Propinsi Riau dalam sambutannya menegaskan bahwa ke depan even ini terus dilanjutkan, harapannya Riau bukan saja mampu menjadi pusat kebudayaan Melayu di Indonesia tetapi juga pusat kebudayaan Melayu tingkat internasinal. Pernyataan ini mengundang apresiasi banyak pihak, andaikan harapan itu akan diwujudkan lantas apa yang harus dilakukan oleh masyarakat Riau? Seperti yang diuangkap Irwansyah di awal, mengenal world music bukan untuk mencari kebenaran format namun lebih pada ekspresi dan gagasan yang diusung dalam bermusik. Demikian pula ketika Riau berharap menjadi pusat budaya Melayu, segenap elemen masyarakat diharapkan turut menumbuhkan ekspresi dan gagasan kehidupan kesenian dan budaya secara terencana dan berkelanjutan.

JADWAL TOUR “JEJAK SUARA SUVARNADVIPA” Part 1

SURABAYA, 16 JUNI 2014
Pukul 20.00 – 22.00 wib
Performance Jejak Suara Suvarnadvipa
At Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur

SOLO, 20 JUNI 2014
Pukul 19.00 – 21.00 wib
Performance Jejak Suara Suvarnadvipa
At Teater Arena Taman Budaya Solo

YOGYAKARTA, 21 JUNI 2014
Pukul 20.00 – 22.00 wib
Performace Jejak Suara Suvarnadvipa
At SDH Taman Budaya Yogyakarta

BANDUNG, 24 JUNI 2014
Pukul 20.00 – 22.00 wib
Performance Jejak Suara Suvarnadvipa
At Taman Budaya Jawa Barat

Don’t miss it!

20140423-101621 AM.jpg

Jambi International Ethno Composer Forum

Riau Rhythm Chambers Indonesia yang didukung oleh Malay Music Institute rencananya akan menghadiri event yang bertajuk Jambi International Ethno Composer Forum yang di taja oleh Taman Budaya Jambi. Event musik yang berskala internasional ini akan digelar pada tanggal 3 – 4 Desember 2013.
Riau Ryhthm Chambers “ethnocontempo” yang dimotori oleh Rino Dezapati akan menyajikan beberapa karya terbaiknya antara lain Nandung Sitalang, Dentang, Denting, Dentum.
Malay Music Institute sendiri rencananya pada tahun 2014 mendatang juga akan menggelar kegiatan yang dengan tajuk Riau Ethnomusicomposer Forum dengan tema “Literatur Musik Melayu”. Hal ini dipandang perlu guna meretas sejarah musik Melayu guna kelestarian musik Melayu khususnya Melayu Riau, ungkap Direktur MMI yang juga pendiri Riau Rhythm Chambers Indonesia.

IPAM 2013

Pada tanggal 16 November 2013, Riau Rhythm Chambers Indonesia akan perform di Salihara jam 3.30 pm dalam event IPAM 2013. Riau Rhythm Chambers Indonesia Produseri oleh Malay Music Institute, akan menyajikan beberapa karya terbaiknya yang antara lain, Lukah Gile dan Hoyak Tacobuar.

RH-PI 2013 “ReBorn

Pelaksanaan Riau Hitam-Putih International 2013 “ReBorn” yang sedianya akan dilaksanakan pada tang 19 Oktober 2013, akan diundur pelaksanaannya pada tanggal 14 Desember 2013. Hal ini dilakukan karena adanya beberapa pertimbangan teknis dan juga non teknis.
Event worldmusic yang rencananya akan di gelar di Anjung Seni Idrus Tintin Pekanbaru ini, akan menampilkan musisi terbaik kota pekanbaru seperti Eri Bob and Friend, Rino Deza Paty and Rhythm Chamber, Fieldplayer dan beberapa musisi jemputan khusus lainnya.
Dalam hal promosi kegiatan, Malay Music Institute juga akan menaja Talkshow di Tv dan Radio Lokal yang rencananya akan dilaksanakan pada bulan Oktober dan November mendatang.
Riau Hitam-Putih International sendiri adalah sebuah event worldmusic berskala internasional yang telah di taja Malay Music Institute pada tahun 2002, 2004 sampai tahun 2009 lalu. Sudah lebih dari 100 grup musik dari berbagai negara yang direkomendasikan oleh tim Kurator terlibat dalam event akbar ini. Dan setelah fakum selama 3 tahun, kini MMI mencoba untuk kembali menghidupkan event unggulan ini dengan mengusung tema “ReBorn” semoga ini menjadi titik awal hidupnya kembali Riau Hitam-Putih Internstional dan event-event musik lainnya di bumi Lancang Kuning tercinta.

RIAU HITAM-PUTIH INTERNATIONAL “ReBorn”

copy-_mg_0027.jpgMalay Music Institute (MMI) dalam waktu dekat ini akan kembali menggelar event worldmusic yang bertajuk RIAU HITAM-PUTIH INTERNATIONAL “ReBorn” sebuah event musik yang telah digelar dari tahun 2002, 2004 sampai dengan tahun 2009 lalu. Mengapa dalam tanda petik dituliskan “ReBorn”? hal ini dimaksudkan sebagai penekanan bahawa event musik tahunan ini akan kembali dilahirkan dan akan terus dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang. Pelaksanaan event ini dipandang perlu untuk terus menumbuhkan serta membangkitkan semangat melestarikan dan mengembangkan seni musik tradisi tempatan.

Event RIAU HITAM-PUTIH INTERNATIONAL “ReBorn” ini rencananya akan di gelar pada tanggal 19 Oktober 2013 yang bertempat di Anjung Seni Idrus Tintin Pekanbaru, Riau, Indonesia. Jika dulu tahun 2004 sampai dengan tahun 2007 event ini pernah digelar di teras Gedung Anjung Seni Idrus Tintin yang belum rampung pengerjaannya, tahun ini Malay Music Institute (MMI) merencanakan akan menggelar event ini di dalam Gedung Anjung Seni Idrus Tintin. Ini merupakan kali pertama RIAU HITAM-PUTIH INTERNATIONAL dilaksanakan di dalam ruangan.

Rencanya event ini akan dilaksanakan selama satu hari yakni pada tanggal 19 Oktober 2013 dan akan menampilkan 5 grup jemputan khusus yang berasal dari dalam dan luar negeri. Beberapa grup musik pilihan yang sudah menyatakan diri untuk berpartisipasi antara lain Rino Deza Paty Project (Pekanbaru-Riau), Bujanggi (Pekanbaru-Riau), Balai Music Contempo (Tanjung Balai Karimun-Kepri) dan Fieldplayers (Kuala Lumpur-Malaysia).

Pada pelaksanaannya tahun ini, Malay Music Institute akan menjual tiket masuk dengan harga mulai dari Rp. 25.000; sampai dengan Rp. 150.000; hal ini dilakukan selain untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk lebih menghargai sebuah karya seni juga untuk mulai mengarahkan Malay Music Institute sebagai salah satu lembaga sosial budaya agar lebih mandiri dan tidak terlalu tergantung dari dana bantuan pemerintah atau bantuan lainnya. Tiket masuk bisa dipesan dari sekarang dengan menghubungi Malay Music Insitute di nomor 0761-7040277.(hari_sandra)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 347 pengikut lainnya.